Surakarta, 25 April 2026 – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi (HIMADIKSAN) berkolaborasi dengan Laboratorium Sosial Humaniora Pendidikan Sosiologi Antropologi (Lab Sosant) menyelenggarakan diskusi bersama bertema “Berpikir Kritis di Tengah Arus Informasi.” Bertempat di Ruang Seminar Nurul Huda, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Diskusi bersama ini mengundang Fauzan Abdillah selaku Menteri Aksi dan Propaganda BEM UNS 2025 sebagai narasumber utama dengan didampingi Shobrina Dealova Azzahra selaku Duta FEB UNS tahun 2026 sebagai moderator. Tidak hanya itu, Dr. Siany Indria Liestyasari selaku Koordinator Lab Sosant juga turut hadir untuk memberikan dukungan terhadap terselenggaranya forum diskusi bersama.
Fauzan menekankan bahwa mahasiswa saat ini tidak kekurangan informasi, tetapi kurang memiliki rasa bijaksana dalam memilihnya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa era digital saat ini ditandai dengan berbagai tantangan seperti fenomena post-truth, krisis atensi, hingga kecenderungan brainrot yang berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif mahasiswa.
Berpikir kritis yang dimaksud merupakan kemampuan untuk mengonseptualisasi, menganalisis, hingga mengevaluasi informasi secara rasional sebelum mengambil sikap. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menguji kebenaran serta memahami konteks dibalik informasi yang tersebar. Penting bagi mahasiswa untuk memiliki kemampuan memilah dan memverifikasi informasi di tengah maraknya information disorder yang meliputi misinformasi, disinformasi, dan maliformasi.
Peserta diskusi diajak untuk memahami berbagai bias kognitif yang sering mempengaruhi cara berpikir seperti confirmation bias dan bandwagon effect. Fauzan mengenalkan kerang verifikasi seperti SIFT, prinsip tabayyun, dan pendekatan THINK untuk mengantisipasi adanya bias kognitif sebelum menyebarkan informasi karena informasi yang disebarkan dapat membentuk opini publik melalui berbagai agenda setting, framing, hingga fenomena echo chamber. Kondisi ini kemudian memicu polarisasi serta menurunkan kualitas ruang diskusi publik apabila tidak disikapi secara kritis dan bijak.
Peserta diskusi, khususnya mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial sehingga diharapkan mampu berkontribusi dalam membangun ruang diskusi yang terbuka, sehat, dan berbasis data. Diskusi sehat tidak hanya mengedepankan kebebasan pendapat, tetapi juga menekankan kualitas argumen serta memiliki sikap saling menghargai. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun diskusi yang sehat dan semakin sadar akan pentingnya berpikir kritis sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual. Mahasiswa diharapkan mampu merespons isu sosial serta bijak dalam berkontribusi menciptakan perubahan sosial yang lebih konstruktif.
Penulis: Novella Mediana Putri & Aisyah Shalihah

